loading...

WIRANTO : YANG AKAN DITUTUP MEDIA SOSIAL, BUKAN MEDIA MASSA

JAKARTA -- Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto, menjelaskan, yang ia maksud akan ditutup karena membantu suatu tindakan melawan hukum bukanlah media massa, melainkan akun media sosial. Ia mengaku paham aturan main soal media massa yang tidak bisa sembarang tutup-menutup.

"Iya akun (media sosial). Kalau yang media-media cetak, elektronik, atau media yang berbasiskan online misalnya, itu kan ada aturan main. Kita ngerti, Pak Wiranto ngerti," ujar Wiranto di kantornya, seperti dilansir republikacoid, Selasa (7/5).
Baca Juga : Hendropriyono Ingatkan Keturunan Arab Jangan Jadi Provokator
Ia menerangkan, saat ini terdapat banyak aksi fisik maupun melalui medium lain yang mengandung ujaran kebencian, radikalisme, pornografi, dan hasutan. Pemerintah kini khusus menyoroti semua itu yang ada di media sosial. Menurutnya, pada 2018 lalu sudah ada 700 ribu akun media sosial yang dihentikan oleh Kemenko Polhukam.

"Tapi ternyata tidak jera, itu terus berlanjut. Makanya saya bilang kemarin pemerintah akan lebih tegas lagi men-take down medsos yang nyata-nyata sudah menghasut, sudah melanggar hukum dan sebagainya. Jangan dicampuradukkan dengan media cetak (media massa)," tutur dia.

Menurutnya, jika ujaran kebencian, fitnah, dan ajakan untuk memberontak didiamkan saja di media sosial, maka hal itu akan berdampak pada wajah Indonesia. Ia menilai, akun-akun media sosial yang tidak jelas, yang membakar emosi, membuat takut, khawatir, dan mengancam masyarakat tidak bisa dibiarkan. "Nah inilah yang kemudian saya katakan pemerintah tidak akan segan-segan menutup itu, men-take down itu. Dan sudah kita laksanakan kok," katanya. (rol, 7/5)
WIRANTO : YANG AKAN DITUTUP MEDIA SOSIAL, BUKAN MEDIA MASSA
Menkopolhukam Wiranto
Bagikan di WhatsApp, Twit, FB, G+